Dalam laga Grand Final yang berlangsung tensi tinggi, Melaka tampil tanpa cela dengan menumbangkan perlawanan tim Sabah. Skor telak 3-0 tanpa balas menutup seri best-of tersebut, memastikan medali emas jatuh ke tangan Melaka, sementara kontingen Sabah harus puas membawa pulang medali perak usai perjuangan keras mereka menembus partai puncak.
Namun, bukan hanya hasil akhir yang menjadi perbincangan. Suasana panggung Grand Final mencuri perhatian penonton ketika ketegangan memuncak antar kedua kubu. Berdasarkan jalannya pertandingan, sejumlah pemain Melaka tertangkap kamera melakukan psywar (intimidasi mental atau yang populer disebut 'saiko') secara berlebihan kepada para pemain Sabah.
Tindakan tersebut dinilai telah melewati batas sportivitas kompetisi. Ketegangan semakin eskalatif hingga terdengar lontaran beberapa kata-kata dari pihak Melaka yang dianggap tidak pantas dan melanggar etika profesionalisme atlet di turnamen tingkat nasional. Walaupun di pihak Sabah tidak adanya respon yang berarti .
Hingga saat ini, insiden taunting berlebihan tersebut masih menjadi perbincangan hangat di kalangan komunitas esports, memunculkan diskusi mengenai pentingnya menjaga tata krama dan sportivitas di atas panggung kompetitif, terlepas dari tingginya ambisi untuk meraih gelar juara.
Perlu kalian ketahui Sukan Malaysia (SUKMA) 2026 ini sama seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) Jika di Indonesia.
Jadi bagaimana menurut kalian ?