Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bagaimana T1 Membangun Bisnis Esports Menjadi Sangat Menguntungkan

Rabu, 09 September 2026 | September 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-17T06:03:22Z

MetaArenaNews — Di balik status sebagai organisasi paling berprestasi dalam sejarah League of Legends, T1 ternyata juga tengah membangun reputasi baru sebagai salah satu bisnis esports paling menguntungkan di dunia. Dalam wawancara eksklusif bersama Sheep Esports, CEO T1 Joe Marsh dan anggota dewan direksi Tucker Roberts (perwakilan Comcast Spectacor) membeberkan bagaimana pendapatan organisasi ini melonjak drastis dari sekitar 1 juta dolar AS pada 2019 menjadi 64 juta dolar AS tahun lalu.

Dari Divisi Marketing Jadi Bisnis Sungguhan

Sebelum 2019, SK Telecom T1 sebenarnya bukan entitas bisnis mandiri, melainkan bagian dari mesin pemasaran olahraga milik konglomerat SK Telecom. Roberts blak-blakan menyebut nya sebagai divisi pemasaran, yang snagat lumrah apabila merugi. Namun, titik balik terjadi saat T1 menjalin joint venture dengan Comcast Spectacor pada 2019, yang mengubah status mereka menjadi perusahaan mandiri yang dituntut menghasilkan profit bagi pemegang saham.

Sponsorship Dulu, Baru Merchandise

Langkah awal T1 membangun fondasi bisnis adalah lewat sponsorship, karena marginnya tinggi dan prosesnya cepat. Namun, Roberts menegaskan sponsorship bukanlah fondasi ideal jangka panjang, karena rentan jadi korban pertama saat resesi ekonomi melanda.

Yang mengejutkan, unit bisnis terbesar T1 saat ini justru bukan sponsorship, melainkan merchandise. Terinspirasi dari fenomena "hoodie org" ala 100 Thieves pada 2019, bisnis merchandise T1 kini tumbuh jauh melampaui pendapatan sponsorship mereka.

Melewati "Death Spiral" Menuju Profit

Roberts mengaku sempat mengalami masa-masa sulit yang ia sebut sebagai "death spiral" selama beberapa tahun, di mana kerugian terus mengecil tapi belum juga berbalik untung, sementara dana untuk investasi pengembangan bisnis baru tetap minim. Ia turut mengoreksi kabar yang sempat beredar soal T1 menggalang dana 35 juta dolar AS pada 2024, dan menyebut angka sebenarnya hanya sekitar sepertiga dari itu.

Barulah pada tahun lalu T1 resmi mencatatkan profit, dan tren itu berlanjut hingga 2026. Kedua eksekutif menegaskan keuntungan tersebut lebih banyak dialokasikan demi kesejahteraan pemain, bukan semata keuntungan pemegang saham, agar T1 mampu mempertahankan roster terbaiknya.

Homeground: Bisnis Event Bernilai Tujuh Digit

Salah satu lini bisnis paling menjanjikan T1 adalah Homeground, rangkaian event live yang memindahkan laga LCK dari venue berkapasitas 400 kursi ke arena berkapasitas belasan ribu penonton. Edisi pertama menarik 7.500 penonton, sementara edisi-edisi terbaru berhasil menjaring 12.000 hingga 15.000 penonton, dengan keuntungan yang menurut Marsh mencapai angka tujuh digit dolar AS per akhir pekan penyelenggaraan.

Marsh bahkan melontarkan visi jangka panjang yang cukup radikal: sebuah model kompetisi ala turnamen golf, di mana T1 dan organisasi besar lain seperti G2 Esports atau Karmine Corp bisa bergiliran menjadi tuan rumah event masing-masing, mengundang tim-tim terbaik dunia. Ambisi ini tentu bergantung pada perubahan besar dalam model franchise League of Legends yang saat ini diterapkan Riot Games.

Basecamp dan Alasan Kenapa Tak Bisa Diekspor

Lini bisnis lain yang dikembangkan T1 adalah Basecamp, semacam PC cafe premium yang saat ini beroperasi di Busan dan segera dibuka juga di Gangnam. Roberts menjelaskan konsep ini berhasil di Korea Selatan berkat budaya sosial masyarakatnya yang gemar bermain game di luar rumah, namun ia ragu model bisnis ini bisa diekspor ke negara seperti Amerika Serikat, karena kebiasaan bermain game masyarakatnya jauh berbeda.

Kenapa T1 Belum Masuk Counter-Strike

Meski profit terus tumbuh, T1 menegaskan tidak berencana asal menambah divisi game baru demi menjaga nilai brand mereka. Sebagai contoh, T1 sebelumnya sudah mundur dari Dota 2 dan Hearthstone karena tak mampu jadi nomor satu di sana. Untuk Counter-Strike, Marsh secara tegas menyebut keengganannya berkaitan dengan fakta bahwa keberlanjutan finansial di level atas Counter-Strike sangat bergantung pada sponsor judi, sesuatu yang menurutnya bertentangan dengan prinsip organisasinya.

Sumber: Sheep Esports

Tetap kunjungi MetaArenaNews untuk mendapatkan informasi esports dalam dan luar negeri lainnya.

×
Berita Terbaru Update